Jakarta (KABARIN) -
Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes menyatakan kebutuhan serat harian selama puasa pada dasarnya dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari, selama pola makan tetap seimbang dan mencakup sumber nabati yang cukup.
“Jika pola makan bisa seimbang, sebenarnya kebutuhan serat bisa dipenuhi dari semua jenis sayur, semua jenis buah, protein nabati, serta makanan pokok yang kaya serat seperti umbi-umbian,” kata dosen di Universitas Faletehan Serang itu.
Ia mengatakan serat tidak hanya berasal dari sayur dan buah, tetapi juga dapat diperoleh dari protein nabati dan makanan pokok tertentu yang kaya akan serat.
Saat dihubungi ANTARA pada Rabu (18/2), ia juga menjelaskan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dan olahannya turut menyumbang asupan serat harian. Begitu juga bahan pangan pokok berbasis umbi yang mengandung serat lebih tinggi dibanding sebagian sumber karbohidrat olahan.
Menurut dia, kunci utama pemenuhan serat saat puasa terletak pada komposisi menu sahur dan berbuka yang tetap lengkap, tidak hanya didominasi karbohidrat sederhana dan lauk hewani.
Menu yang mengandung kombinasi sayur, buah, dan sumber protein nabati membantu menjaga fungsi pencernaan tetap stabil meski frekuensi makan berkurang selama puasa.
Meski begitu, konsultan gizi di Rumah Sakit (RS) Royal Progress Sunter itu menambahkan bahwa suplemen serat dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, terutama jika sudah muncul keluhan gangguan pencernaan seperti sembelit.
“Dalam kondisi tertentu, misalnya sudah terjadi sembelit dan mengganggu pencernaan, suplementasi serat bisa membantu mengatasi keadaan tersebut,” ujarnya.
Namun, ia menekankan suplemen bukan pilihan utama jika kebutuhan serat masih dapat dipenuhi dari makanan utuh. Pengaturan menu yang beragam dan seimbang tetap menjadi cara utama untuk menjaga kecukupan serat harian selama puasa.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026